Suara Hati menjadi album Iwan Fals pada 2002 yang membuatnya benar-benar lahir kembali. Setelah di album sebelumnya orang bertanya-tanya karena Iwan hanya mengaransemen ulang lagu-lagu lama, pada album ini seluruhnya benar-benar baru. Mulai lagu, vokal, musik, benar-benar fresh.
Album ini menjawab pertanyaan tentang kevakuman Iwan Fals dalam bermusik sepeninggal anak pertamanya Galang Rambu Anarki. Lagu-lagu pada album ini lebih berkualitas dan berbobot, namun liriknya lebih dewasa tidak senakal dahulu.
Iwan menjadi lebih profesional, karena telah memiliki manajemen pribadi yang digawangi oleh istrinya (Rossana). Iwan mulai rajin menggelar konser baik di TV maupun outdoor, dan rata rata sukses tanpa kerusuhan.
- Kupu KupuHitam Putih
- Hadapi SajaVersi Edit
- Suara Hati
- UntukmuNegeri
- Doa
- 15 Juli1996
- Hadapi Saja
- Belalang Tua
- Untuk ParaPengabdi
- Seperti Matahari
Iri aku menyaksikan itu tapi kutekan aku harus bersyukurBerguru pada kenyataan pada makhluk tuhan yang katanya tak berakal
Suara burung di dahan nyanyian alamBekerja ia mencari makan ada juga yang membuat sarangIri aku menyaksikan itu tapi kutekan aku harus bersyukurBerguru pada kenyataan pada makhluk tuhan yang katanya tak berakal
Kupu-kupu hitam putih terbang di sekitarkuMelihat ia menari hatiku terpatriSepasang merpati bercumbu di balik awanKemudian ia turun menukik sujud syukur pada-Nya
Mendung datang lagi setelah hangat sebentarButir embun hilang aku jadi termenungMencari pegangan mencoba untuk bersandarLangit makin hitam aku jadi berharap pada hujan
Kupu-kupu hitam putih terbang di sekitarkuMelihat ia menari hatiku terpatriSepasang merpati bercumbu di balik awanKemudian ia turun menukik sujud syukur pada-Nya
lalalalalalalalalalalala..
Pasrah pada IlahiHanya itu yang kita bisaAmbil hikmatnya ambil indahnyaCobalah menari cobalah bernyanyiCobalah-cobalah mulai detik iniHadapi saja
(*)Hilang memang hilang wajahnyaTerus terbayangBerjumpa di mimpiKau ajak aku untuk menari,BernyanyiBersama bidadari malaikatDan penghuni surga
Kembali ke: (*)
Relakan yang terjadi takkan kembaliIa sudah miliknya bukan milik kita lagiPasrah pada Ilahi hanya itu yang kita bisaAmbil hikmatnya ambil indahnya
Tak perlu menangis tak perlu bersedihTak perlu tak perlu sedu sedan ituHadapi saja
Cobalah menari cobalah bernyanyiCobalah cobalah mulai detik iniHadapi saja
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati
Tanpa kau sepi rasanya hari
Kabar buruk apa kabar baik
Yang kau bawa mudah-mudahan baik
Dengar-dengar dunia lapar
Lapar sesuatu yang benar
(*)
Suara hati kenapa pergi
Suara hati jangan pergi lagi
Suara hati kenapa pergi
Suara hati jangan pergi lagi
Kau dengarkan orang-orang yang menangis
Sebab hidupnya dipacu nafsu
Kau rasakan sakitnya orang-orang yang tertindas
Oleh derap sepatu pembangunan
Kau lihatlah pembantaian
Demi kekuasaan yang secuil
Kau tahukah alam yang kesakitan
Lalu apa yang akan kau suarakan
Kembali ke: (*)
(**)
Apa kabar suata hati
Sudah lama baru terdengar lagi
Kemana saja suara hati
Tanpa kau sepi rasanya hari
Kembali ke: (**)
Apapun yang kan terjadiAku tak akan lariApalagi bersembunyiTak kan pernah terjadi
Air mata darah telah tumpahDemi ambisi membangun negeriKalaulah ini pengorbananTentu bukan milik segelintir orang
Belum cukupkah semua iniApakah tidak berartiLihatlah wajah ibu pertiwiPucat letih dan sedihnya berkaratBerdoa terus berdoa
Hingga mulutnya berbusa busaLudahnya muncrat saking kecewaIbu pertiwi hilang tawanyaTak percaya masih ada cinta
Seluruh hidupku jadi siagaPagar berduri kutancapkan dihati
Untukmu negeriYang telah memberi artiUntukmu negeriYang telah melukai ibu kamiUntukmu negeriYang telah merampas anak kamiUntukmu negeriYang telah memperkosa saudara kamiUntukmu negeriWaspadalahUntukmu negeriBangkitlahUntukmu negeriBersatulahUntukmu negeriSejahteralah kamu negerikuSejahteralah kamu
Perihnya masih terasaSakitnya tak terhingga
BerdoalahSambil berusahaAgar hidup jadi tak sia sia
Badan sehatJiwa sehatHanya itu yang kami mau
Hidup berkahPenuh gairahMudah mudahan ALLAH setuju
Inilah lagu pujianNasehat dan pengharapan
Dari hati yang pernah matiKini hidup kembali
Bulan dan bintangTerangi malamSehabis hujan
Saling bicaraTukar ceritaBerbagi rasa
Aku disiniTetap di tepiMasih bernyanyi
Dunia sedang dilanda kalutAlam semesta seperti merintihKau dengarkah?
Aku tak bisaUntuk tak peduliHati tersiksa
Aku bersumpahUntuk berbuatYang aku bisa
Harus ada yang dikerjakanAgar kehidupan berjalan wajarHidup hanya sekali wahai kawanAku tak mau mati dalam keraguan
Kalau kau datang
Pasrah pada IlahiHanya itu yang kita bisaAmbil hikmatnya ambil indahnyaCobalah menari cobalah bernyanyiCobalah-cobalah mulai detik iniHadapi saja
(*)Hilang memang hilang wajahnyaTerus terbayangBerjumpa di mimpiKau ajak aku untuk menari,BernyanyiBersama bidadari malaikatDan penghuni surga
Kembali ke: (*)
Relakan yang terjadi takkan kembaliIa sudah miliknya bukan milik kita lagiPasrah pada Ilahi hanya itu yang kita bisaAmbil hikmatnya ambil indahnya
Tak perlu menangis tak perlu bersedihTak perlu tak perlu sedu sedan ituHadapi saja
Cobalah menari cobalah bernyanyiCobalah cobalah mulai detik iniHadapi saja
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang
Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan
Belalang tua yang tak kenyang-kenyang
Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak keatas
Matanya melotot melihatku tak senang kakinya mencengkeram daun
Empat di depan dua di belakang bergerigi tajam
Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar
Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku
Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang
Walau hampir habis daun tak jadi patah
Belalang yang serakah berhenti mengunyah
Kisah belalang tua diujung daun yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah
Oo .. oo .. oo .. oo belalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam-hitaman
Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas
Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik-rintik
Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir
Siang malam kuberjagaDi relung hatimu di dalam benakmuDi setiap langkahmuMudah mudahan begitu
Silahkan engkau tertawaSepuas hatimuKu takkan pernah berpalingKarena hinaan itu
Bahagia rasanyaLihat engkau bahagiaBerduka rasanyaKalau engkau berduka
Untuk pengabdi lagu para pengabdiDi puncak gunung di tengah tengah samuderaDi dalam rimba di kebingungan desa dan kota
Untuk pengabdi lagu para pengabdiDi puncak gunung di tengah tengah samuderaDi dalam rimba di kebingungan desa dan kota
Kan ku temani kauKan ku temani kau
Kita hidup mencari bahagiaHarta dunia kendaraannyaBahan bakarnya budi pekertiItulah nasehat para nabi
Ingin bahagia derita didapatKarena ingin sumber deritaHarta dunia jadi penggodaMembuat miskin jiwa kita
Ada benarnya nasehat orang orang suciMemberi itu terangkan hatiSeperti matahariYang menyinari bumiYang menyinari bumi
Ingin bahagia derita didapatKarena ingin sumber deritaHarta dunia jadi penggodaMembuat miskin jiwa kita
Keinginan adalah sumber penderitaan
0 comments:
Post a Comment